banner image
banner image

Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 2


Latar berpindah ke sebuah tempat yang rindang. Tempat di mana Tan Ya dan ibunya berlatih Tarian Spirit.


Tan Ya berlaith Tarian Spirit dengan mengikuti gerakan ibunya. Awalnya berjalan lancar. Namun mungkin karena pikiran Tan Ya sedang tidak fokus, ia gagal.

“Karena inilah kau masih tak bisa bermimpi. Kau harus pelajari tarian dan mulai bermimpi. Barulah kau boleh belajar mantra Serigala Putih Besar,” komentar pedas ibunya.


Tan Ya ingin menangis. Dan Eun Sum melihat semuanya.


Cerita beralih ke prajurit Arthdal. Mereka sedang menaiki kuda menuju misi selanjutnya. Di tepi tebing, sekumpulan orang dipaksa bekerja untuk membangun sesuatu. Alat itulah yang nantinya digunakan untuk menuruni Tebing Hitam Besar dan menuju Iark.




Tan Ya masih belajar Tarian Spirit. Beberapa kali ia gagal. Ia terduduk dan ibunya datang mendekat. 


Tan Ya terlihat lelah dan sedih karena belum menguasai tarian tersebut. “Aku tak bisa dengar suara spirit. Aku tak hafal tarian memanggil spirit seperti Ibu. Aku bahkan belum bisa bermimpi. Kenapa aku tak bisa kabur bersama Eun Sum?”


“Karena kau terikat,” jawab Cho Seol.

“Benarkah? Aku terikat pada apa?”

“Nama. Namamu, Tan Ya. Sebagai anggota suku Wahan. Fakta bahwa kau putrid Yeol Son. Kepala suku berikutnya. Dan anak dari ramalan tentang Komet Biru.”

“Jadi, nama bisa mengikat kita. Seperti mantra. Ibu pikir Eun Sum mau pergi karena terikat nama?”


“Seperti kau tahu, Eun Sum menuruni Tebing Hitam Besar. Ia harus kembali.”

“Ibu bilang Serigala Putih Besar juga menuruni tebing, kan? Namun, ia tak pernah kembali.”

“Kau tahu itu pesan terakhir ibunya. Namun, ia tak akan segera pergi. Tampaknya, ada yang mengikatnya di sini untuk sementara ini.”



Dan sebuah senyum terkembang di bibir Tan Ya.

Eun Sum sedang memberi makan kuda hitam. Ia mengajak bicara si kuda itu dan coba membujuk kuda hitam agar mau berdiri. Bahkan saat Eun Sum menariknya, kuda tersebut tidak mau dan tetap pada posisi duduknya.



Tan Ya datang dan melihat apa yang dilakukan Eun Sum.

“Kau bilang mau pergi, kan? Kenapa ada di sini?” Tan Ya bertanya.

“Aku akan pergi. Saat kau hafal menari, bermimpi, dan jadi kepala suku yang baik.”

Mereka berdua membicarakan tentang persyaratan menunggangi kuda. Tiba-tiba Eun Sum punya ide. “Aku hanya harus naik kuda. Ia menolak berdiri. Aku bisa duduki saat ia berbaring begini. Itu sama saja.”


Tentu saja, Tan Ya marah dengan ide tersebut. Eun Sum akan diusir. Tapi Tan Ya pikir, semua ini lucu untuk Eun Sum dan Eun Sum terlihat menikmatinya. Padahal Tan Ya tidak ingin Eun Sum pergi dan berusaha untuk menahannya.


“Jika diusir sebagai pencuri, kau tak bisa mencapai Laut Air Mata. Anggota suku lain akan mengejarmu. Jika terus berbuat bodoh karena lucu, kau bisa mati!” ujar Tan Ya frustasi.

“Astaga, jangan cemas. Aku telah alami banyak hal, tapi masih hidup. Aku tak menyakiti satu pun kuku jari atau mematahkan hidungku.”


“Astaga, kau selalu mengatakan itu.” Tan Ya memberikan wortel pada Eun Sum dan menyuruhnya melakukan apa pun keinginannya. Ia akan beranjak pergi ketika sebuah suara asing didengarnya.

“Beri aku nama.”


Tan Ya berbalik dan melihat Eun Sum dan kuda hitam. Ia berjalan mendekat ke arah kuda karena ia yakin suara itu berasal darinya. Ia teringat perkataan ibunya dan bertanya pada Eun Sum apa Eun Sum sudah memberi kuda itu nama.

Tan Ya duduk di dekat sang kuda. Ia mengelusnya dan berbicara melalui batin dengannya. Ia memperkenalkan dirinya. Ia lalu memberi nama kuda itu Bantu. Tak lupa ia meminta Bantu untuk membantu Eun Sum. Dan ia memotong tali yang mengikat Bantu.


Eun Sum berusaha mencegah. Tapi Tan Ya tetap memotong talinya. Bantu berdiri dan Eun Sum lari ke belakang Tan Ya. Bantu tidak kabur. Eun Sum kagum pada kemampuan Tan Ya.


Sebelum pergi Tan Ya berkata, “Namanya Bantu.”


Prajurit Arthdal sedang melewati Laut Air Mata. Mereka sudah membuat jalan menggunakan kayu sehingga mempermudah untuk melewati tempat panas itu.


Para anggota suku Wahan sedang menghias diri untu perayaan. Mereka terlihat gembira. Yeol Son mencari Mung Tae, Teo Dae, dan Dalsae yang ternyata sedang menonton Eun Sum.

Eun Sum berusaha naik ke atas punggung kuda. Ia tidak berhasil dan terjatuh. Dan itu ditertawakan oleh tiga orang yang menontonnya dari kejauhan. Mencoba berapa kali pun, Eun Sum masih gagal. Para penontonnya tetap berada di sana dan menertawakannya.


Beberapa laki-laki suku Wahan sedang berjalan menuju suatu tempat. Mereka mengobrol dan bercanda sepanjang perjalan. Sementara para wanita dan anak-anak berkumpul dan memasak di desa.



Tan Ya ingin menanyakan tentang Eun Sum pada ibunya. Namun kemudian, Eun Sum muncul yang memunculkan senyum di bibir Tan Ya. Cho Seol meminta Eun Sum bersiap-siap.


Eun Sum pergi dan Tan Ya mengikutinya dengan membawa perlengkapan untuk berhias. Cho Seol hanya melihat tanpa ekspresi.

Tan Ya membantu Eun Sum berhias di pinggir danau. Eun Sum memperhatikan dengan seksama wajah Tan Ya. Ia memajukan bibirnya ingin mencium Tan Ya.



“Akan kubunuh kau,” ancam Tan Ya.


Eun Sum pun mundur dan berpura-pura melakukan hal lain. Tan Ya hanya tersenyum melihatnya.

Mereka berkaca menggunakan air danau lalu tertawa bersama.


Eun Sum mengajak Tan Ya berlatih menari lagi.

“Bagaimana kau bisa hafal dengan sekali melihat?”

“Kau pandai menirukan suara burung. Itu lebih hebat.”


Mereka berdua pun menari bersama. Eun Sum mengajari gerakan tari yang belum dihafal Tan Ya.



“Jika terus begini, aku bisa menguasainya di hari terakhir perayaan,” kata Tan Ya.

Eun Sum teringat janjinya untuk pergi usai perayaan.


Tan Ya kembali mengajak Eun Sum duduk. Eun Sum membuka bajunya. Tan Ya bisa melihat bekas keropeng di punggung Eun Sum. Ia mulai menghias di sana.
Mereka membicarakan tentang mimpi yang di alami Eun Sum. Kali ini mempi yang berbeda dari biasanya. Mendengar hal tersebut, Tan Ya merasa iri karena begitu mudah bagi Eun Sum untuk bermimpi.



Eun Sum memakaikan kalung pada Tan Ya. Ia ingin agar Tan Ya selalu memakainya saat menjadi kepala suku.

“Ini tak akan memikat hatiku, tahu? Aku lebih ingin kau tak berbuat onar. Namun, ini cantik.”



Tentu saja, Eun Sum senang mendengarnya.


Para pria suku Wahan sampai ke sebuah tempat. Mereka terkejut karena menemukan orang-orang di sama sudah mati.


Eun Sum masih berusaha menunggangi kuda. Ia jatuh dan kuda itu berlari ke dalam hutan. Ia berlari mengejar Bantu. Tanpa sengaja ia bertemu seseorang yang terluka di sana. Orang itu adalah suku Anja.


“Ada yang mau mencuri negeri?” Eun Sum menerjemahkan perkataan suku Anja yang terpatah-patah itu.

Tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan mengagetkan Eun Sum.

Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 2 Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 2 Reviewed by Liku Kata on Juni 12, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.