Latar berpindah ke sebuah tempat yang rindang. Tempat di mana Tan Ya dan ibunya berlatih Tarian Spirit.
Tan Ya
berlaith Tarian Spirit dengan mengikuti gerakan ibunya. Awalnya berjalan
lancar. Namun mungkin karena pikiran Tan Ya sedang tidak fokus, ia gagal.
“Karena
inilah kau masih tak bisa bermimpi. Kau harus pelajari tarian dan mulai
bermimpi. Barulah kau boleh belajar mantra Serigala Putih Besar,” komentar
pedas ibunya.
Tan Ya
ingin menangis. Dan Eun Sum melihat semuanya.
Cerita beralih
ke prajurit Arthdal. Mereka sedang menaiki kuda menuju misi selanjutnya. Di
tepi tebing, sekumpulan orang dipaksa bekerja untuk membangun sesuatu. Alat itulah
yang nantinya digunakan untuk menuruni Tebing Hitam Besar dan menuju Iark.
Tan Ya
masih belajar Tarian Spirit. Beberapa kali ia gagal. Ia terduduk dan ibunya
datang mendekat.
Tan Ya terlihat lelah dan sedih karena belum menguasai tarian
tersebut. “Aku tak bisa dengar suara spirit. Aku tak hafal tarian memanggil
spirit seperti Ibu. Aku bahkan belum bisa bermimpi. Kenapa aku tak bisa kabur
bersama Eun Sum?”
“Karena kau
terikat,” jawab Cho Seol.
“Benarkah?
Aku terikat pada apa?”
“Nama.
Namamu, Tan Ya. Sebagai anggota suku Wahan. Fakta bahwa kau putrid Yeol Son. Kepala
suku berikutnya. Dan anak dari ramalan tentang Komet Biru.”
“Jadi, nama
bisa mengikat kita. Seperti mantra. Ibu pikir Eun Sum mau pergi karena terikat
nama?”
“Seperti
kau tahu, Eun Sum menuruni Tebing Hitam Besar. Ia harus kembali.”
“Ibu bilang
Serigala Putih Besar juga menuruni tebing, kan? Namun, ia tak pernah kembali.”
“Kau tahu
itu pesan terakhir ibunya. Namun, ia tak akan segera pergi. Tampaknya, ada yang
mengikatnya di sini untuk sementara ini.”
Dan sebuah
senyum terkembang di bibir Tan Ya.
Eun Sum
sedang memberi makan kuda hitam. Ia mengajak bicara si kuda itu dan coba
membujuk kuda hitam agar mau berdiri. Bahkan saat Eun Sum menariknya, kuda
tersebut tidak mau dan tetap pada posisi duduknya.
Tan Ya
datang dan melihat apa yang dilakukan Eun Sum.
“Kau bilang
mau pergi, kan? Kenapa ada di sini?” Tan Ya bertanya.
“Aku akan
pergi. Saat kau hafal menari, bermimpi, dan jadi kepala suku yang baik.”
Mereka
berdua membicarakan tentang persyaratan menunggangi kuda. Tiba-tiba Eun Sum
punya ide. “Aku hanya harus naik kuda. Ia menolak berdiri. Aku bisa duduki saat
ia berbaring begini. Itu sama saja.”
Tentu saja,
Tan Ya marah dengan ide tersebut. Eun Sum akan diusir. Tapi Tan Ya pikir, semua
ini lucu untuk Eun Sum dan Eun Sum terlihat menikmatinya. Padahal Tan Ya tidak
ingin Eun Sum pergi dan berusaha untuk menahannya.
“Jika
diusir sebagai pencuri, kau tak bisa mencapai Laut Air Mata. Anggota suku lain
akan mengejarmu. Jika terus berbuat bodoh karena lucu, kau bisa mati!” ujar Tan
Ya frustasi.
“Astaga,
jangan cemas. Aku telah alami banyak hal, tapi masih hidup. Aku tak menyakiti
satu pun kuku jari atau mematahkan hidungku.”
“Astaga,
kau selalu mengatakan itu.” Tan Ya memberikan wortel pada Eun Sum dan
menyuruhnya melakukan apa pun keinginannya. Ia akan beranjak pergi ketika
sebuah suara asing didengarnya.
“Beri aku
nama.”
Tan Ya
berbalik dan melihat Eun Sum dan kuda hitam. Ia berjalan mendekat ke arah kuda
karena ia yakin suara itu berasal darinya. Ia teringat perkataan ibunya dan
bertanya pada Eun Sum apa Eun Sum sudah memberi kuda itu nama.
Tan Ya
duduk di dekat sang kuda. Ia mengelusnya dan berbicara melalui batin dengannya.
Ia memperkenalkan dirinya. Ia lalu memberi nama kuda itu Bantu. Tak lupa ia
meminta Bantu untuk membantu Eun Sum. Dan ia memotong tali yang mengikat Bantu.
Eun Sum
berusaha mencegah. Tapi Tan Ya tetap memotong talinya. Bantu berdiri dan Eun
Sum lari ke belakang Tan Ya. Bantu tidak kabur. Eun Sum kagum pada kemampuan
Tan Ya.
Sebelum pergi
Tan Ya berkata, “Namanya Bantu.”
Prajurit Arthdal
sedang melewati Laut Air Mata. Mereka sudah membuat jalan menggunakan kayu
sehingga mempermudah untuk melewati tempat panas itu.
Para anggota
suku Wahan sedang menghias diri untu perayaan. Mereka terlihat gembira. Yeol
Son mencari Mung Tae, Teo Dae, dan Dalsae yang ternyata sedang menonton Eun
Sum.
Eun Sum
berusaha naik ke atas punggung kuda. Ia tidak berhasil dan terjatuh. Dan itu
ditertawakan oleh tiga orang yang menontonnya dari kejauhan. Mencoba berapa
kali pun, Eun Sum masih gagal. Para penontonnya tetap berada di sana dan
menertawakannya.
Beberapa laki-laki
suku Wahan sedang berjalan menuju suatu tempat. Mereka mengobrol dan bercanda
sepanjang perjalan. Sementara para wanita dan anak-anak berkumpul dan memasak
di desa.
Tan Ya
ingin menanyakan tentang Eun Sum pada ibunya. Namun kemudian, Eun Sum muncul
yang memunculkan senyum di bibir Tan Ya. Cho Seol meminta Eun Sum bersiap-siap.
Eun Sum
pergi dan Tan Ya mengikutinya dengan membawa perlengkapan untuk berhias. Cho
Seol hanya melihat tanpa ekspresi.
Tan Ya
membantu Eun Sum berhias di pinggir danau. Eun Sum memperhatikan dengan seksama
wajah Tan Ya. Ia memajukan bibirnya ingin mencium Tan Ya.
“Akan
kubunuh kau,” ancam Tan Ya.
Eun Sum pun
mundur dan berpura-pura melakukan hal lain. Tan Ya hanya tersenyum melihatnya.
Mereka berkaca
menggunakan air danau lalu tertawa bersama.
Eun Sum
mengajak Tan Ya berlatih menari lagi.
“Bagaimana
kau bisa hafal dengan sekali melihat?”
“Kau pandai
menirukan suara burung. Itu lebih hebat.”
Mereka berdua
pun menari bersama. Eun Sum mengajari gerakan tari yang belum dihafal Tan Ya.
“Jika terus
begini, aku bisa menguasainya di hari terakhir perayaan,” kata Tan Ya.
Eun Sum teringat
janjinya untuk pergi usai perayaan.
Tan Ya kembali
mengajak Eun Sum duduk. Eun Sum membuka bajunya. Tan Ya bisa melihat bekas
keropeng di punggung Eun Sum. Ia mulai menghias di sana.
Mereka membicarakan
tentang mimpi yang di alami Eun Sum. Kali ini mempi yang berbeda dari biasanya.
Mendengar hal tersebut, Tan Ya merasa iri karena begitu mudah bagi Eun Sum untuk
bermimpi.
Eun Sum
memakaikan kalung pada Tan Ya. Ia ingin agar Tan Ya selalu memakainya saat
menjadi kepala suku.
“Ini tak
akan memikat hatiku, tahu? Aku lebih ingin kau tak berbuat onar. Namun, ini
cantik.”
Tentu saja,
Eun Sum senang mendengarnya.
Para pria
suku Wahan sampai ke sebuah tempat. Mereka terkejut karena menemukan
orang-orang di sama sudah mati.
Eun Sum
masih berusaha menunggangi kuda. Ia jatuh dan kuda itu berlari ke dalam hutan. Ia
berlari mengejar Bantu. Tanpa sengaja ia bertemu seseorang yang terluka di
sana. Orang itu adalah suku Anja.
“Ada yang
mau mencuri negeri?” Eun Sum menerjemahkan perkataan suku Anja yang
terpatah-patah itu.
Tiba-tiba
sebuah anak panah melesat dan mengagetkan Eun Sum.
Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 2
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 12, 2019
Rating:
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 12, 2019
Rating:









































Tidak ada komentar: