Eun Sum dewasa mengingau tentang ibunya. Ia terbangun dan mengagetkan orang-orang yang mengerubunginya. Salah seorang di antara mereka bertanya apakah Eun Sum benar-benar bermimpi.
“Aku yakin
begitu. Ini selalu terjadi.”
“Ia tidur
di rumah pohon agar tak ketahuan.”
Bukan Eun
Sum yang menjawab, melainkan orang-orang di sekitarnya yang melakukannya.
Kabar
tentang Eun Sum yang bermimpi menghebohkan suku Wahan karena tidak semua orang
bisa bermimpi.
Ada
seseorang yang bicara, “Tan Ya adalah anak Komet Biru. Ia akan jadi kepala suku
berikutnya. Namun, ia tak bisa bermimpi. Namun, Eun Sum bisa. Itu artinya Eun
Sum mencuri mimpinya Tan Ya!”
Tan Ya coba
mengelak. Tapi, kalah dengan Yeol Son. Yeol Son ingin dengar langsung jawaban
Eun Sum.
“Memang
benar aku bisa bermimpi,” aku Eun Sum. Tapi ia tak mau disebut sebagai pencuri
mimpi. Tidak ada yang benar-benar tahu tentang mimpi. Ia justru mempraktekkan
bagaimana proses mendapatkan mimpi. Orang-orang tetap tidak percaya.
“Aku sudah
bermimpi jauh sebelum datang kemari. Bagaimana kalian bisa berpikir kucuri
mimpinya Tan ya?”
Kepala suku
berbisik pada Yeol Son. Ada yang tetap memprovokasi kalau Eun Sum mencuri mimpi
Tan Ya. Alasannya karena Tan Ya dan Eun Sum sama-sama lahir di hari Komet Biru.
Ada lagi
yang memberi alasan kalau Eun Sum bisa melakukan tarian spirit Cho Seol supaya
bisa mencuri mimpi Tan Ya. Padahal Eun Sum memang mudah menghafal sesuatu
dengan sekali lihat dan untuk mengajari Tan Ya yang masih belajar tarian
tersebut.
Ada yang
bilang juga kalau Eun Sum mencuri kuda yang meraka buru.
Orang-orang
membawa Eun Sum pada kuda yang katanya Eun Sum curi. Tan Ya berusaha membela
Eun Sum dengan berkata, “Ia menaruh kuda ini di sini demi kita.”
Namun, saat
orang-orang minta penjelasan lebih, Tan Ya melemparkannya pada Eun Sum.
“Sebenarnya aku… Aku mau tunggangi kuda ini!” Eun Sum memberi alasan yang jauh
berbeda dengan Tan Ya.
“Jika bisa
ditunggangi, bagus untuk Tan Ya karena ia berlatih di tempat jauh. Kupikir itu
bagus untuk Ayah Yeol Son yang bepergian, berdagang dengan suku lain. Maka
kucoba menunggangi kuda,” Eun Sum memberi alasan panjang.
Orang-orang
tetap tidak percaya. Mereka pikir Eun Sum aneh karena ide-idenya aneh, walaupun
juga ide anehnya terkadang membantu mereka. Mereka ingin mengusir Eun Sum.
Sementara Tan Ya berusaha untuk mempertahankan Eun Sum.
Akhirnya
Yeol Son mengambil keputusan, “Aku mau Eun Sum berhasil menunggangi kuda saat
bulan purnama lagi. Jika gagal melakukannya, akan kuusir ia dari desa kita.”
Ayah dan
ibu Tan Ya berbincang-bincang mengenai Eun Sum dan masa depan Tan Ya. Mereka
mengingat bagaimana mereka berhasil menemukan Eun Sum karena mimpi Tan Ya. Dan
itu juga merupakan mimpi terakhir Tan Ya. Ibu Tan Ya meyakinkan bahwa Tan Ya
adalah anak yang diramalkan dan menyuruh suaminya agar percaya pada Tan Ya.
“Namun,
tentang ramalan Komet Biru itu… ‘Orang yang merusak cangkang akan muncul saat
Komet Biru muncul bersama kematian. Lalu suku Wahan tak akan sama lagi’,”
Yeolson mengatakan ramalan mengenai Komet Biru.
Yeol Son
menunjukkan sebuah alat baru untuk membuat api pada istrinya. Ia kembali
teringat pada ide aneh Eun Sum. Jika berhasil, pasti akan sangat membantu.
“Tidak bisa
kubiarkan itu. Tidak boleh,” batin Cho Seol.
Eun Sum
duduk di dekat kuda hitam yang ditangkapnya. Di tangan kirinya memegang kalung,
sementara tangan kanannya memegang pisau. Ia terlihat bimbang. Ia melihat si
kuda lalu menghela nafas.
“Maafkan
aku, Tan Ya.” Dan Eun Sum pun siap untuk membunuh kuda hitam itu.
Namun
tiba-tiba, ada yang melempar batu ke arahnya. Orang itu adalah Tan Ya.
“Kau
mencoba pergi, ya? Bahkan tanpa memberitahuku?” Tanya Tan Ya. Ia bersiap
memukul Eun Sum.
“Apa yang
kau lakukan?” Eun Sum mulai berjalan mundur, bersiap untuk menghindar.
“Kau butuh
kulit kuda untuk pergi. Dan sepatu untuk menyeberangi Laut Air Mata. Juga
banyak daging untuk perjalanan jauh,” lanjut Tan Ya.
Tan Ya
melempar batu ke arah Eun Sum. Ia masih marah dan siap mengejar Eun Sum dengan
batu lain di tangannya. Mau tak mau Eun Sum lari. Dan adegan kejar-kejaran pun
dimulai.
Eun Sum
sembunyi di atas pohon. Saat Tan Ya lewat, Eun Sum menjatuhkan dirinya ke atas
Tan Ya. Tan Ya memukul bokong Eun Sum. Lagi-lagi Eun Sum kabur dari Tan Ya yang
tentu saja dikejar olehnya. Tan Ya berhasil menangkap bagian belakang baju Eun
Sum. Namun, terlepas dan merobek baju Eun Sum. Eun Sum akhirnya menyerah.
Tan Ya
melihat keropeng di punggung Eun Sum. Ia mendekat dan melepas baju Eun Sum. “Keropeng
birumu luruh,” komentarnya.
“Ya. Belum
lama ini.”
“Kurasa kau
sungguh akan pergi.”
“Ya, tadinya.”
Mereka
membicarakan ibu Eun Sum, pertemuan mereka yang pertama kali, dan permintaannya
yang meminta Eun Sum kembali.
“Ibuku
sudah sakit sepanjang ingatanku. Walau begitu, ia tak beristirahat sehari pun.
Ia sibuk cari jalan menuruni Tebing Hitam Besar. Kami butuh sepuluh tahun untuk
menemukannya. Namun begitu kami turun, ibu bilang aku memanfaatkannya dan
menyuruhku kembali. Lalu ia meninggal. Aku tak bisa Tanya jawabannya pada siapa
pun. Namun, tak bisa kulupakan ucapan ibuku. Aku mau belah kepala jika itu bisa
membuatku lupa.”
“Kapan kau
mau memberitahuku? Sehari sebelum atau saat kau pergi? Jika kau pikirkan, aku
yang menyelamatkanmu. Aku juga temanmu. Akan bagus jika aku bisa bermimpi juga.
Mungkin aku bisa memahami perasaanmu. Namun, aku tak tahu. ”
Tan Ya
memandang Eun Sum lalu melanjutkan, “Namun, aku tahu kau akan pergi. Ibumu
menyuruh. Aku paham. Pergilah.”
Tan Ya
bangkit dari duduknya. Sebelum pergi, ia menambahkan untuk membuat sepatu dari
kulit bokong kuda karena lebih awet. Ia berjalan pergi meninggalkan Eun Sum.
Eun Sum
masih duduk di tempat yang sama. Ia memainkan bandul kalungnya sembari
mengingat perkataan Tan Ya. “Aku memang mau pergi, tapi karena kau bertanya…
Kupikir aku tak perlu pergi.”
“Namun, kau
sudah janji akan pergi.” Tiba-tiba Cho Seol muncul di belakang Eun Sum. Eun
Sum berdiri.
“Pergilah.
Lupakan tempat ini. Tempatmu bukan di sini,” lanjut Cho Seol.
“Kenapa kau
sangat membenciku? Mimpi Tan Ya menuntunku kemari. Aku juga bagian dari suku
Wahan,” balas Eun Sum.
“Benar, Tan
Ya meramalkan kau kemari, tapi kami tak tahu kau akan menguntungkan suku Wahan
atau akan membawa malapetaka ke atas kami.”
“Jadi,
maksudmu, aku membawa sial bagi suku Wahan? Kenapa?”
“Kau pastu
tahu, Serigala Putih Besar adalah kepala suku pertama kami. Ada mantra yang
diturunkan dari Serigala Putih Besar pada kepala suku berikutnya. Tentang tiga
hal yang tak boleh kami lakukan. Warga Wahan tak tahu itu. Mendengar larangan
membuat mereka mau melakukannya. Karena kau akan pergi, kuberi tahu. Pertama,
‘pujalah Tebing Hitam Besar, tapi jangan melintasinya’. Kau melintasinya.
‘Pelajari kearifan benih, tapi jangan menumbuhkan’. Saat orang lain tak
terpikirkan hal itu, kau menanam biji ek. Dan hari ini, kau bilang mau
menunggangi kuda. ‘Berkomunikasilah dengan hewan, tapi jangan dijinakkan’. Itu
yang ketiga. Kau tak bisa jadi anggota suku Wahan. Itu tidak boleh terjadi.”
“Lalu aku
harus jadi apa? Masa bersama ibuku sudah lewat. Jika masaku bersama Tan Ya juga
hilang… Jika tempatku bukan di mana pun… Ibuku bilang jika hidup bersama
manusia, aku akan jadi manusia. Saling bantu, tersenyum, dan menangis bersama.
Karena itu Tan Ya adalah suku Wahan, sama seperti Dalsae. Semua orang punya
suku. Lalu aku? Siapa aku? Di mana tempatku seharusnya?” Eun Sum terlihat
frustasi.
“Kurasa
menumakan jawabannya adalah takdirmu,” kata Cho Seol lalu pergi.
Tan Ya
kembali ke tempat Eun Sum berada. Ia menangis karena tidak menemukan Eun Sum di
sana. sedangkan Eun Sum meluapkan rasa frustasinya dengan berlari di hutan. Eun
Sum menjatuhkan dirinya dari atas tebing ke dalam danau.
“Aku akan
tinggal sedikit lebih lama. Tan Ya belum hafal Tarian Spirit. Aku tinggal
sampai ia hafal. Kumohon.” Eun Sum mengingat percakapan terakhirnya dengan Cho Seol.
“Tinggallah
sampai Perayaan Spirit Bunga. Kau harus pergi tanpa ragu sesudahnya.”
Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 1
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 12, 2019
Rating:
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 12, 2019
Rating:



























Tidak ada komentar: