banner image
banner image

Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 1


Eun Sum dewasa mengingau tentang ibunya. Ia terbangun dan mengagetkan orang-orang yang mengerubunginya. Salah seorang di antara mereka bertanya apakah Eun Sum benar-benar bermimpi.


“Aku yakin begitu. Ini selalu terjadi.”

“Ia tidur di rumah pohon agar tak ketahuan.”

Bukan Eun Sum yang menjawab, melainkan orang-orang di sekitarnya yang melakukannya.

Kabar tentang Eun Sum yang bermimpi menghebohkan suku Wahan karena tidak semua orang bisa bermimpi.


Ada seseorang yang bicara, “Tan Ya adalah anak Komet Biru. Ia akan jadi kepala suku berikutnya. Namun, ia tak bisa bermimpi. Namun, Eun Sum bisa. Itu artinya Eun Sum mencuri mimpinya Tan Ya!”

Tan Ya coba mengelak. Tapi, kalah dengan Yeol Son. Yeol Son ingin dengar langsung jawaban Eun Sum.


“Memang benar aku bisa bermimpi,” aku Eun Sum. Tapi ia tak mau disebut sebagai pencuri mimpi. Tidak ada yang benar-benar tahu tentang mimpi. Ia justru mempraktekkan bagaimana proses mendapatkan mimpi. Orang-orang tetap tidak percaya.

“Aku sudah bermimpi jauh sebelum datang kemari. Bagaimana kalian bisa berpikir kucuri mimpinya Tan ya?”


Kepala suku berbisik pada Yeol Son. Ada yang tetap memprovokasi kalau Eun Sum mencuri mimpi Tan Ya. Alasannya karena Tan Ya dan Eun Sum sama-sama lahir di hari Komet Biru.



Ada lagi yang memberi alasan kalau Eun Sum bisa melakukan tarian spirit Cho Seol supaya bisa mencuri mimpi Tan Ya. Padahal Eun Sum memang mudah menghafal sesuatu dengan sekali lihat dan untuk mengajari Tan Ya yang masih belajar tarian tersebut.


Ada yang bilang juga kalau Eun Sum mencuri kuda yang meraka buru.


Orang-orang membawa Eun Sum pada kuda yang katanya Eun Sum curi. Tan Ya berusaha membela Eun Sum dengan berkata, “Ia menaruh kuda ini di sini demi kita.”

Namun, saat orang-orang minta penjelasan lebih, Tan Ya melemparkannya pada Eun Sum. “Sebenarnya aku… Aku mau tunggangi kuda ini!” Eun Sum memberi alasan yang jauh berbeda dengan Tan Ya.

“Jika bisa ditunggangi, bagus untuk Tan Ya karena ia berlatih di tempat jauh. Kupikir itu bagus untuk Ayah Yeol Son yang bepergian, berdagang dengan suku lain. Maka kucoba menunggangi kuda,” Eun Sum memberi alasan panjang.


Orang-orang tetap tidak percaya. Mereka pikir Eun Sum aneh karena ide-idenya aneh, walaupun juga ide anehnya terkadang membantu mereka. Mereka ingin mengusir Eun Sum. Sementara Tan Ya berusaha untuk mempertahankan Eun Sum.

Akhirnya Yeol Son mengambil keputusan, “Aku mau Eun Sum berhasil menunggangi kuda saat bulan purnama lagi. Jika gagal melakukannya, akan kuusir ia dari desa kita.”

Ayah dan ibu Tan Ya berbincang-bincang mengenai Eun Sum dan masa depan Tan Ya. Mereka mengingat bagaimana mereka berhasil menemukan Eun Sum karena mimpi Tan Ya. Dan itu juga merupakan mimpi terakhir Tan Ya. Ibu Tan Ya meyakinkan bahwa Tan Ya adalah anak yang diramalkan dan menyuruh suaminya agar percaya pada Tan Ya.

“Namun, tentang ramalan Komet Biru itu… ‘Orang yang merusak cangkang akan muncul saat Komet Biru muncul bersama kematian. Lalu suku Wahan tak akan sama lagi’,” Yeolson mengatakan ramalan mengenai Komet Biru.


Yeol Son menunjukkan sebuah alat baru untuk membuat api pada istrinya. Ia kembali teringat pada ide aneh Eun Sum. Jika berhasil, pasti akan sangat membantu.

“Tidak bisa kubiarkan itu. Tidak boleh,” batin Cho Seol.

Eun Sum duduk di dekat kuda hitam yang ditangkapnya. Di tangan kirinya memegang kalung, sementara tangan kanannya memegang pisau. Ia terlihat bimbang. Ia melihat si kuda lalu menghela nafas.

“Maafkan aku, Tan Ya.” Dan Eun Sum pun siap untuk membunuh kuda hitam itu.

Namun tiba-tiba, ada yang melempar batu ke arahnya. Orang itu adalah Tan Ya.


“Kau mencoba pergi, ya? Bahkan tanpa memberitahuku?” Tanya Tan Ya. Ia bersiap memukul Eun Sum.

“Apa yang kau lakukan?” Eun Sum mulai berjalan mundur, bersiap untuk menghindar.

“Kau butuh kulit kuda untuk pergi. Dan sepatu untuk menyeberangi Laut Air Mata. Juga banyak daging untuk perjalanan jauh,” lanjut Tan Ya.


Tan Ya melempar batu ke arah Eun Sum. Ia masih marah dan siap mengejar Eun Sum dengan batu lain di tangannya. Mau tak mau Eun Sum lari. Dan adegan kejar-kejaran pun dimulai.



Eun Sum sembunyi di atas pohon. Saat Tan Ya lewat, Eun Sum menjatuhkan dirinya ke atas Tan Ya. Tan Ya memukul bokong Eun Sum. Lagi-lagi Eun Sum kabur dari Tan Ya yang tentu saja dikejar olehnya. Tan Ya berhasil menangkap bagian belakang baju Eun Sum. Namun, terlepas dan merobek baju Eun Sum. Eun Sum akhirnya menyerah.


Tan Ya melihat keropeng di punggung Eun Sum. Ia mendekat dan melepas baju Eun Sum. “Keropeng birumu luruh,” komentarnya.

“Ya. Belum lama ini.”

“Kurasa kau sungguh akan pergi.”

“Ya, tadinya.”


Mereka membicarakan ibu Eun Sum, pertemuan mereka yang pertama kali, dan permintaannya yang meminta Eun Sum kembali.

“Ibuku sudah sakit sepanjang ingatanku. Walau begitu, ia tak beristirahat sehari pun. Ia sibuk cari jalan menuruni Tebing Hitam Besar. Kami butuh sepuluh tahun untuk menemukannya. Namun begitu kami turun, ibu bilang aku memanfaatkannya dan menyuruhku kembali. Lalu ia meninggal. Aku tak bisa Tanya jawabannya pada siapa pun. Namun, tak bisa kulupakan ucapan ibuku. Aku mau belah kepala jika itu bisa membuatku lupa.”


“Kapan kau mau memberitahuku? Sehari sebelum atau saat kau pergi? Jika kau pikirkan, aku yang menyelamatkanmu. Aku juga temanmu. Akan bagus jika aku bisa bermimpi juga. Mungkin aku bisa memahami perasaanmu. Namun, aku tak tahu. ”


Tan Ya memandang Eun Sum lalu melanjutkan, “Namun, aku tahu kau akan pergi. Ibumu menyuruh. Aku paham. Pergilah.”

Tan Ya bangkit dari duduknya. Sebelum pergi, ia menambahkan untuk membuat sepatu dari kulit bokong kuda karena lebih awet. Ia berjalan pergi meninggalkan Eun Sum.


Eun Sum masih duduk di tempat yang sama. Ia memainkan bandul kalungnya sembari mengingat perkataan Tan Ya. “Aku memang mau pergi, tapi karena kau bertanya… Kupikir aku tak perlu pergi.”

“Namun, kau sudah janji akan pergi.” Tiba-tiba Cho Seol muncul di belakang Eun Sum. Eun Sum berdiri.


“Pergilah. Lupakan tempat ini. Tempatmu bukan di sini,” lanjut Cho Seol.

“Kenapa kau sangat membenciku? Mimpi Tan Ya menuntunku kemari. Aku juga bagian dari suku Wahan,” balas Eun Sum.

“Benar, Tan Ya meramalkan kau kemari, tapi kami tak tahu kau akan menguntungkan suku Wahan atau akan membawa malapetaka ke atas kami.”

“Jadi, maksudmu, aku membawa sial bagi suku Wahan? Kenapa?”


“Kau pastu tahu, Serigala Putih Besar adalah kepala suku pertama kami. Ada mantra yang diturunkan dari Serigala Putih Besar pada kepala suku berikutnya. Tentang tiga hal yang tak boleh kami lakukan. Warga Wahan tak tahu itu. Mendengar larangan membuat mereka mau melakukannya. Karena kau akan pergi, kuberi tahu. Pertama, ‘pujalah Tebing Hitam Besar, tapi jangan melintasinya’. Kau melintasinya. ‘Pelajari kearifan benih, tapi jangan menumbuhkan’. Saat orang lain tak terpikirkan hal itu, kau menanam biji ek. Dan hari ini, kau bilang mau menunggangi kuda. ‘Berkomunikasilah dengan hewan, tapi jangan dijinakkan’. Itu yang ketiga. Kau tak bisa jadi anggota suku Wahan. Itu tidak boleh terjadi.”


“Lalu aku harus jadi apa? Masa bersama ibuku sudah lewat. Jika masaku bersama Tan Ya juga hilang… Jika tempatku bukan di mana pun… Ibuku bilang jika hidup bersama manusia, aku akan jadi manusia. Saling bantu, tersenyum, dan menangis bersama. Karena itu Tan Ya adalah suku Wahan, sama seperti Dalsae. Semua orang punya suku. Lalu aku? Siapa aku? Di mana tempatku seharusnya?” Eun Sum terlihat frustasi.


“Kurasa menumakan jawabannya adalah takdirmu,” kata Cho Seol lalu pergi.




Tan Ya kembali ke tempat Eun Sum berada. Ia menangis karena tidak menemukan Eun Sum di sana. sedangkan Eun Sum meluapkan rasa frustasinya dengan berlari di hutan. Eun Sum menjatuhkan dirinya dari atas tebing ke dalam danau.


“Aku akan tinggal sedikit lebih lama. Tan Ya belum hafal Tarian Spirit. Aku tinggal sampai ia hafal. Kumohon.” Eun Sum mengingat percakapan terakhirnya dengan Cho Seol.

“Tinggallah sampai Perayaan Spirit Bunga. Kau harus pergi tanpa ragu sesudahnya.”


Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 1 Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 1 Reviewed by Liku Kata on Juni 12, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.