Di sebuah hutan, seorang wanita sedang tertidur
bersama bayi laki-lakinya. Tiba-tiba seekor ular putih datang mendekat dan siap
untuk mematuk sang bayi. Namun kemudian, mata si bayi berubah menjadi ungu.
Setting berpindah. Tempat itu adalah Arth.
Sekumpulan pemuda berlari. Mereka memburu
sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat dan satu-persatu membunuh
teman-temannya. Seorang pemuda yang tersisa berusaha memadamkan api agar
keberadaannya tak terlihat, tapi sesuatu itu muncul di belakangnya. Ternyata
sesuatu itu adalah seorang laki-laki Nweantal.
Anak panah ditembakkan ke arah mereka.
Laki-laki Nweantal itu kabur dan bala bantuan datang. Mereka berlari ke arah Nweantal
kabur untuk membunuhnya.
Setting kembali berpindah. Kali ini di atas
tebing. Beberapa orang berdiri menunggu kedatangan Nweantal. Saat para Nweantal
datang, pihak Arthdal mengajukan sebuah kerja sama. Penutup meja dibuka.
Terdapat kacang, jelai, gandum, dan bawang putih. Itu semua merupakan hasil
pertanian pihak Arthdal. Mereka mengajak untuk membangun sebuah bangsa bersama.
Namun, Nweantal menolak lalu pergi dari sana.
“Bagaimana hasilnya?” tanya seseorang pada mereka
yang baru saja kembali dari pertemuan.
“Bicara dengan mereka jelas sia-sia.”
“Lalu, bagaimana sekarang?”
“Menurutmu apa? Artinya perang.”
“Apa? Bagaimana kita akan melawan mereka?
Mereka monster.”
Asa Hon menambahkan bahwa mereka akan mencoba
membujuk Nweantal sekali lagi dengan mengirimkan hadiah.
Moo Baek berjalan mendekati Ta Gon muda yang
sedang bermain dengan burung. Ia memberitahu negosisasi gagal. Reaksi Ta Gon
sama. Ini tanda untuk perang.
Setiap setahun sekali, Nweantal akan berkumpul
untuk merayakan bulan sabit. Festival tersebut berlangsung selama tujuh hari.
Dan itu merepakan kesempatan emas untuk Arthdal.
Arthdal mengirimkan hadiah yang sudah
dijangkiti dengan virus yang nantinya bisa membunuh para Nweantal. Asa Hon
dijadikan tumbal karena bertindak sebagai perwakilan untuk mengirimkan hadiah.
Ia melihat seorang Nweantal meninggal, tapi ia berhasil menyelamatkan bayi
Nweantal yang masih hidup. Saat itu pula ia tahu bahwa Atturad akan dibakar
oleh pasukan Arthdal.
Kebakaran besar terjadi di Atturad. Korban
Nweantal berjatuhan.
Asa Hon tidak mau pergi karena tipu muslihat
yang dilakukan kaumnya. Ragaz membunuh seorang pengawal di depan mata Asa Hon
dan mengatakan bahwa bangsa Arthdal sangat jahat. Ragaz terjatuh, Asa Hon
melihat bayi yang digendongnya dan menyuruhnya agar segera pergi. Asa Hon
meminta maaf. Ia mengajukan ide untuk menyelamatkan para anak-anak bersama.
Panah api terus ditembakkan oleh bangsa Arthdal.
Mereka juga membunuh para Nweantal yang berusaha menyelamatkan diri. Dan
akhirnya, perang pun dimenangkan oleh kaum Arthdal. Perburuan besar untuk
membunuh Nweantal yang tersisa dimulai.
Moo Baek bersama anak buahnya sedang memburu
Nweantal. Ragaz menyembunyikan seorang bayi tak jauh dari sana. ia lalu
berjalan ke arah Moo Baek dan memunculkan dirinya. Pasukan Moo Baek mulai
menyerang. Tapi, Ragaz cepat dan berhasil membunuh beberapa orang di antara
mereka.
Seorang bocah Nweantal mengintip dari balik
semak-semak. Saat pertempuran sengit antara Ragaz dan Moo Baek, ia berlari
menjauh. Ia ingin memberitahu pada Asa Hon.
Asa Hon bermimpi. Dalam mimpinya, ia diminta
untuk menyerahkan bayinya karena terlahir di hari Komet Biru terlihat. Dan bayi
tersebut akan membawa bencana. Asa Hon menolak. Suara itu menginginkan agar Asa
Hon memilih antara bayi itu, kakak dari bayi itu, atau ayah dari bayi tersebut.
Suara itu menyuruh Asa Hon agar lari sejauh mungkin dan jangan kejar orang yang
menyanyi.
Asa Hon bangun. Ia teringat bayinya, Eun Sum,
tapi sudah tidak ada di sebelahnya. Ia keluar dan melihat seorang anak
laki-laki sedang menggendongnya. Anak laki-laki itu mengatakan jika demam Eun
Sum sudah turun. Asa Hon segera mengambil Eun Sum.
Bocah yang tadi melihat pertarungan Ragaz dan
Moo Baek datang. Ia memberitahu Asa Hon perihal apa yang dilihatnya. Asa Hon
lalu teringat pada mimpinya. Asa Hon ingin ke sana dan membawa bayinya. Tapi,
anak laki-laki menyarankan agar Asa Hon menyerahkan sang bayi padanya. Jika Asa
Hon pergi sendiri, ia bisa selamat karena sukunya tidak akan membunuh klan Asa.
Asa Hon menolak dan tetap membawa bayinya.
Pertarungan antara Ragaz dan Moo Baek masih
berlanjut. Karena kalah jumlah, Ragaz pun kalah. Ia mati terbunuh. Sebelum mati
ia berkata, “Semalam aku bermimpi. Kulihat kiamat suku kalian. Kalian akhirnya
akan saling membunuh.”
Para Arthdal yang mengerubunginya membicarakan
tentang apa yang Ragaz katakan. Moo Baek penasaran siapa yang memanah Ragaz.
Itu adalah Ta Gon. Ta Gon muncul dan semua orang di sana langsung duduk
bersujud. Mereka memuji Ta Gon karena behasil membunuh Nweantal dengan sekali
anak panah.
“Aku memulai perang ini. Aku tak bisa cuma diam
melihat. Mulai kini, aku sendiri yang akan memimpin perburuan. Ini perintah
langsung ayahku, Sanung Niruha,” kata Ta Gon.
Ta Gon mendekati salah satu pasukannya yang
terluka. Ia memegang tangannya. Prajurit yang akan mati meminta Ta Gon
melakukan ritual Ollimsani untuknya. Seharusnya hanya pendeta dan klan Asa yang
melakukannya. Tapi, Ta Gon tetap mau melakukannya. Dan para prajurit lainnya
pun terpaksa mengikuti perintah Ta Gon. Sebagai akhir dari ritual, Ta Gon
menusuk leher sang prajurit dengan pisau.
Ta Gon meminta untuk mengumpulkan para prajurit
yang sudah mati. Seseorang berkomentar bahwa Ta Gon mengingatkannya pada
Aramun, pendiri Arthdal. Ta Gon menjawab ia adalah Ta Gon bukan Aramun,
kemudian meninggalkan mereka.
Sepeninggal Ta Gon, Moo Baek berkata pada orang
yang berkomentar pada Ta Gon tadi untuk jangan mendukung Ta Gon karena hanya
klan Asa yang boleh melakukan Ollimsani. Ia mengelak dan mengatakan Moo Baek
hanya iri padanya karena Ta Gon lebih percaya dirinya. Moo Baek tidak ingin
berdebat lebih jauh dengannya.
Asa Hon mengintip dari balik pepohonan.
Ta Gon merasa ada yang aneh. Ia berjalan ke
satu arah dan menemukan seorang bayi di sana. Itu adalah Igutu, bayi campuran
antara manusia dan Nweantal. Ternyata Ta Gon ingin menyelamatkan bayi tersebut.
Ia membunuh dua pengawalnya agar tidak ada saksi mata. Tapi, Asa Hon melihat
semuanya. Ta Gon pergi membawa sang bayi. Dan ketika itu, Asa Hon mendengar
nyanyian Ta Gon. Asa Hon kembali teringat pada mimpinya.
Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 1 Part 1
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 11, 2019
Rating:
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 11, 2019
Rating:








Tidak ada komentar: