banner image
banner image

Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 3 Part 1


Melanjutkan episode sebelumnya di mana kubu Moo Baek mengejar Eun Sum.


“Jika kuda itu Kanmoreu, maka ia Aramun Haesulla,” batin Moo Baek.

Eun Sum terus berlari dengan kudanya. Kubu Moo Baek sudah tidak bisa mengejarnya lagi. Moo Baek menyuruh dua anak buahnya untuk kembali ke markas dan melaporkan hal tersebut. Sementara Moo Baek berniat untuk terus mengejar Eun Sum.

Kuda Eun Sum terus berlari hingga sampai di suatu tempat. Buru-buru Eun Sum turun dan menenggelamkan wajahnya ke dalam air. Ia teringat ucapan terakhir Tan Ya. Tentang Eun Sum yang harus selamat dan kembali untuk Tan Ya dan suku Wahan.



“Aku harus bagaimana? Aku harus menolong mereka. Namun, aku tak tahu siapa mereka. Mereka terlalu kuat dan terlalu banyak. Mereka terlalu…” Eun Sum frustasi karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk Tan Ya dan suku Wahan.

Tiba-tiba Eun Sum mendengar derap kaki kuda mendekat. Moo Baek mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk menyerang Eun Sum. Saat akhirnya Eun Sum melihat Moo Baek, ia segera lari menuju kudanya, menaikinya, dan pergi sesegera mungkin.



Moo Baek terus mengejar Eun Sum dan berniat untuk menembakkan anak panah. Tembakan pertama dan kedua meleset. Eun Sum berpikir bagaimana agar tidak terluka oleh senjata tersebut.


Moo Baek mencari arah lain untuk memanah Eun Sum. Tiba-tiba Bantu (Kanmoreu) berhenti. Si kuda justru berbalik arah menuju Moo Baek. Mereka berhadap-hadapan. Moo Baek siap untuk menembakkan anak panahnya ke Eun Sum.


“Ya, aku ingat kata Dalsae. Katanya aku bukan manusia karena mataku terlalu tajam,” batin Eun Sum.

Eun Sum berhasil menghindari anak panah. Moo Baek lalu mengeluarkan pedangnya. Tanpa diduga, kuda Moo Baek menjatuhkan penunggangnya. Kuda tersebut lalu mengikuti Bantu. Moo Baek berlari mengejar di belakangnya.


Flashback masa lalu ketika Moo Baek mendapat jabatan dan pedang dari pemimpin Arthdal.


Akhirnya Moo Baek berhenti berlari. “Kanmoreu… Apa kuda itu sungguh Kanmoreu?” batinnya.

Para tawanan berjalan melewati Laut Air Mata. Dengan beralaskan sandal jerami, mereka melalui jalan kayu yang sudah dibuat pasukan Arthdal sebelumnya. Suku Wahan termasuk di antaranya.



Eun Sum kembali ke desa. Pemandangan di sana hanya api dan mayat-mayat dari penduduk desa. Ia sedih dan juga marah pada pasukan Arthdal. Ia mencari barang-barang yang bisa ia gunakan untuk melawan mereka.




Tiba-tiba Eun Sum mendengar suara tangis anak perempuan. Ternyata itu Doti, salah satu anak suku Wahan yang berhasil selamat. Doti lalu berlari memeluk Eun Sum.





Eun Sum menghibur Doti, menguatkannya, dan mengajaknya untuk menyelamatkan suku Wahan. Eun Sum sadar ia tak bisa melawan mereka semua. Maka, ia mempunyai ide untuk menangkap pemimpin pasukan Arthdal dan kemudian menukarnya dengan suku Wahan.


Kuda lain yang tadinya milik Moo Baek datang dan otomatis membuat Eun Sum pada posisi siaga. Ia bisa tenang saat dilihatnya dua kuda itu sedang makan. Eun Sum mengamati apa yang ada di punggung kuda Moo Baek lalu bertanya pada Bantu, “Hei. Kau mau coba mengenakan pakaian?”



Yeol Son bertanya akan dibawa ke mana mereka. Ia hanya tahu di depan hanya ada Tebing Hitam Besar dan mereka tidak bisa melaluinya. Pasukan Arthdal menjawab mereka akan naik ke atas menggunakan alat yang sudah mereka siapkan.


Mereka semua heran dan mungkin kagum melihatnya. Cho Seol terlihat ketakutan dan mulai bergumam, “Semua spirit akan berhenti bicara. Dan semua makhluk hidup akan kehilangan kehidupannya.”


Pasukan Arthdal membawa para tawanannya naik menggunakan alat seperti lift tersebut. Sampai di atas, mereka bisa melihat para pekerja yang disiksa oleh pasukan Arthdal. Mereka disuruh berjalan di dalam gua yang sempit lalu naik lift lain hingga mereka benar-benar sampai di atas tebing.




Dua anak buah Moo Baek bersepakat untuk tidak memeberitahu Ta Gon mengenai Kanmoreu.


Tan Ya dan Cho Seol melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya.



Moo Baek kembali ke desa suku Wahan.


Anak buah Moo Baek melapor pada Ta Gon tentang keberhasilan mereka. Ta Gon terlihat senang dan memutuskan untuk segera kembali ke Arthdal. Para pasukan senang karena sudah lama mereka tidak pulang ke Arthdal.



Kitoha menunjuk suku Wahan. Ia mengatakan pada Ta Gon bahwa suku Wahan berbicara bahasa yang sama dengan mereka. Ta Gon cukup terkejut mendengarnya.


Berpindah ke Arthdal, Gil Sun memanggal kepala pencuri. Pencuri dari suku Hopi merasa tidak adil karena mereka yang bekerja keras, tapi mereka tidak menikmati hasilnya. Ia juga berteriak mengenai Aramun Haesulla dan klan Asa. Gil Sun bersiap memenggal orang itu tapi dihentikan oleh Sanung Niruha. Semua orang langsung bersujud.




“Kenapa orang bersalah ini membuat kegaduhan?” Sanung Niruha bertanya.

“Ia dan pengikutnya mencuri panen yang dibawa ke kuil,” jawab Gil Sun.

“Sanung Niruha, pemimpin Serikat Arthdal dan ketua suku Saenyeok. Ya, ia benar. Kami mencuri hasil panen! Namun katakana, apa ucapanku tadi bohong? Apa yang klan Asa lakukan hingga layak mendapatkan semua hasil panen dari Dataran Bulan?”


“Kalian tak bisa menyangkal fakta telah melakukan pencurian. Kalian juga tak menghormati klan Asa. Aku sebagai pemimpin serikat, tak bisa memaafkan. Namun, akan kupakai kekuasaanku untuk menunda eksekusi pria ini. Akan kubahas ini dengan Asa Ron Niruha, sang Pendeta Tinggi,” titah Sanung Niruha yang tentunya mengejutkan orang-orang di sana yang mendengarnya.


Sanung Niruha kembali ke kediamannya. Ia memberikan perintah untuk membunuh semua orang kecuali pria yang akan dieksekusi tadi. “Rakyat akan membenci klan Asa karena kematian mereka, bukan aku,” tambahnya. Dan kenapa ia membiarkan pria yang akan dieksekusi tetap hidup agar pria itu bisa bicara tentang ketidakpuasannya.



Lanjut ke episode 3 part 2


Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 3 Part 1 Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 3 Part 1 Reviewed by Liku Kata on Juni 16, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.