Melanjutkan
episode sebelumnya di mana kubu Moo Baek mengejar Eun Sum.
“Jika kuda
itu Kanmoreu, maka ia Aramun Haesulla,” batin Moo Baek.
Eun Sum
terus berlari dengan kudanya. Kubu Moo Baek sudah tidak bisa mengejarnya lagi.
Moo Baek menyuruh dua anak buahnya untuk kembali ke markas dan melaporkan hal
tersebut. Sementara Moo Baek berniat untuk terus mengejar Eun Sum.
Kuda Eun
Sum terus berlari hingga sampai di suatu tempat. Buru-buru Eun Sum turun dan
menenggelamkan wajahnya ke dalam air. Ia teringat ucapan terakhir Tan Ya.
Tentang Eun Sum yang harus selamat dan kembali untuk Tan Ya dan suku Wahan.
“Aku harus
bagaimana? Aku harus menolong mereka. Namun, aku tak tahu siapa mereka. Mereka
terlalu kuat dan terlalu banyak. Mereka terlalu…” Eun Sum frustasi karena tidak
bisa melakukan apa-apa untuk Tan Ya dan suku Wahan.
Tiba-tiba
Eun Sum mendengar derap kaki kuda mendekat. Moo Baek mengeluarkan pedangnya dan
bersiap untuk menyerang Eun Sum. Saat akhirnya Eun Sum melihat Moo Baek, ia
segera lari menuju kudanya, menaikinya, dan pergi sesegera mungkin.
Moo Baek
terus mengejar Eun Sum dan berniat untuk menembakkan anak panah. Tembakan
pertama dan kedua meleset. Eun Sum berpikir bagaimana agar tidak terluka oleh
senjata tersebut.
Moo Baek
mencari arah lain untuk memanah Eun Sum. Tiba-tiba Bantu (Kanmoreu) berhenti.
Si kuda justru berbalik arah menuju Moo Baek. Mereka berhadap-hadapan. Moo Baek
siap untuk menembakkan anak panahnya ke Eun Sum.
“Ya, aku
ingat kata Dalsae. Katanya aku bukan manusia karena mataku terlalu tajam,”
batin Eun Sum.
Eun Sum
berhasil menghindari anak panah. Moo Baek lalu mengeluarkan pedangnya. Tanpa
diduga, kuda Moo Baek menjatuhkan penunggangnya. Kuda tersebut lalu mengikuti
Bantu. Moo Baek berlari mengejar di belakangnya.
Flashback
masa lalu ketika Moo Baek mendapat jabatan dan pedang dari pemimpin Arthdal.
Akhirnya
Moo Baek berhenti berlari. “Kanmoreu… Apa kuda itu sungguh Kanmoreu?” batinnya.
Para
tawanan berjalan melewati Laut Air Mata. Dengan beralaskan sandal jerami,
mereka melalui jalan kayu yang sudah dibuat pasukan Arthdal sebelumnya. Suku
Wahan termasuk di antaranya.
Eun Sum
kembali ke desa. Pemandangan di sana hanya api dan mayat-mayat dari penduduk
desa. Ia sedih dan juga marah pada pasukan Arthdal. Ia mencari barang-barang
yang bisa ia gunakan untuk melawan mereka.
Tiba-tiba
Eun Sum mendengar suara tangis anak perempuan. Ternyata itu Doti, salah satu
anak suku Wahan yang berhasil selamat. Doti lalu berlari memeluk Eun Sum.
Eun Sum
menghibur Doti, menguatkannya, dan mengajaknya untuk menyelamatkan suku Wahan.
Eun Sum sadar ia tak bisa melawan mereka semua. Maka, ia mempunyai ide untuk
menangkap pemimpin pasukan Arthdal dan kemudian menukarnya dengan suku Wahan.
Kuda lain
yang tadinya milik Moo Baek datang dan otomatis membuat Eun Sum pada posisi
siaga. Ia bisa tenang saat dilihatnya dua kuda itu sedang makan. Eun Sum
mengamati apa yang ada di punggung kuda Moo Baek lalu bertanya pada Bantu,
“Hei. Kau mau coba mengenakan pakaian?”
Yeol Son
bertanya akan dibawa ke mana mereka. Ia hanya tahu di depan hanya ada Tebing
Hitam Besar dan mereka tidak bisa melaluinya. Pasukan Arthdal menjawab mereka
akan naik ke atas menggunakan alat yang sudah mereka siapkan.
Mereka
semua heran dan mungkin kagum melihatnya. Cho Seol terlihat ketakutan dan mulai
bergumam, “Semua spirit akan berhenti bicara. Dan semua makhluk hidup akan
kehilangan kehidupannya.”
Pasukan
Arthdal membawa para tawanannya naik menggunakan alat seperti lift tersebut.
Sampai di atas, mereka bisa melihat para pekerja yang disiksa oleh pasukan
Arthdal. Mereka disuruh berjalan di dalam gua yang sempit lalu naik lift lain
hingga mereka benar-benar sampai di atas tebing.
Dua anak
buah Moo Baek bersepakat untuk tidak memeberitahu Ta Gon mengenai Kanmoreu.
Tan Ya dan
Cho Seol melihat pemandangan yang belum pernah dilihatnya.
Moo Baek
kembali ke desa suku Wahan.
Anak buah
Moo Baek melapor pada Ta Gon tentang keberhasilan mereka. Ta Gon terlihat
senang dan memutuskan untuk segera kembali ke Arthdal. Para pasukan senang
karena sudah lama mereka tidak pulang ke Arthdal.
Kitoha
menunjuk suku Wahan. Ia mengatakan pada Ta Gon bahwa suku Wahan berbicara
bahasa yang sama dengan mereka. Ta Gon cukup terkejut mendengarnya.
Berpindah
ke Arthdal, Gil Sun memanggal kepala pencuri. Pencuri dari suku Hopi merasa
tidak adil karena mereka yang bekerja keras, tapi mereka tidak menikmati
hasilnya. Ia juga berteriak mengenai Aramun Haesulla dan klan Asa. Gil Sun
bersiap memenggal orang itu tapi dihentikan oleh Sanung Niruha. Semua orang
langsung bersujud.
“Kenapa
orang bersalah ini membuat kegaduhan?” Sanung Niruha bertanya.
“Ia dan
pengikutnya mencuri panen yang dibawa ke kuil,” jawab Gil Sun.
“Sanung
Niruha, pemimpin Serikat Arthdal dan ketua suku Saenyeok. Ya, ia benar. Kami
mencuri hasil panen! Namun katakana, apa ucapanku tadi bohong? Apa yang klan
Asa lakukan hingga layak mendapatkan semua hasil panen dari Dataran Bulan?”
“Kalian tak
bisa menyangkal fakta telah melakukan pencurian. Kalian juga tak menghormati klan
Asa. Aku sebagai pemimpin serikat, tak bisa memaafkan. Namun, akan kupakai
kekuasaanku untuk menunda eksekusi pria ini. Akan kubahas ini dengan Asa Ron
Niruha, sang Pendeta Tinggi,” titah Sanung Niruha yang tentunya mengejutkan
orang-orang di sana yang mendengarnya.
Sanung
Niruha kembali ke kediamannya. Ia memberikan perintah untuk membunuh semua
orang kecuali pria yang akan dieksekusi tadi. “Rakyat akan membenci klan Asa
karena kematian mereka, bukan aku,” tambahnya. Dan kenapa ia membiarkan pria
yang akan dieksekusi tetap hidup agar pria itu bisa bicara tentang
ketidakpuasannya.
Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 3 Part 1
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 16, 2019
Rating:
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 16, 2019
Rating:







































Tidak ada komentar: