Seorang
prajurit Arthdal bersiap memanah Eun Sum. Eun Sum yang baru pertama kali
melihat busur dan panah justru penasaran. Sementara si orang Arthdal melaporkan
keberadaan Eun Sum.
Eun Sum
terserempet anak panah. Si pemanah berlari ke arah Eun Sum. Dan itu tanda bagi
Eun Sum untuk kabur. Si prajurit terus mengarahkan anak panahnya pada Eun Sum.
Beruntung Eun Sum berhasil menghindar.
Eun Sum
terus berlari sambil sesekali memegangi lehernya yang terluka. Ia menabrak
seseorang yang ternyata juga merupakan pasukan Arthdal. Namun, orang itu tidak
membawa busur dan panah, melainkan sebuah pedang. Mereka berdua saling
berhadapan.
Sekuat
tenaga Eun Sum membela diri. Tapi lengannya terluka dan darah ungu mengalir
dari lukanya. Si prajurit Arthdal pun menyadari bahwa lawannya adalah seorang
Igutu. Eun Sum mengambil kesempatan untuk melepaskan diri. Prajurit itu mati
oleh pedang temannya yang baru datang. Dan prajurit kedua pun mati setelah dilempar
oleh Eun Sum.
Eun Sum
mengambil pedang musuh. “Batu macam apa ini?”
Desa geger
karena kematian suku Anja. Mereka mengira suku Anja diserang oleh suku Wabi,
padahal sebenarnya tidak. Eun Sum datang tertatih-tatih menuju keramaian di
desa.
“Bukan suku
Wabi!” suara Eun Sum lantang. Semua melihat ke arah Eun Sum.
Pasukan
Arthdal yang lain telah sampai di TKP. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi
saat melihat dua prajurit Arthdal mati di sana. Di belakangnya, Bantu melihat
semuanya.
Sementara
di desa, Eun Sum melaporkan semuanya, tentang apa yang didengar dan dilihatnya.
Tapi Dal Sae menuduhnya berbohong. Eun Sum mengelak. Ia tidak berbohong. Ia
menunjukkan pedang yang digunakan Arthdal untuk membunuh. Ia juga mengatakan
bahwa penyerangnya menggunakan bahasa yang sama seperti mereka gunakan.
Sekali lagi
Dal Sae menolak percaya. Cho Seol bertanya mengenai ksatria Anja yang ditemui
Eun Sum. Eun Sum pun berniat kembali ke hutan dan membawa ksatria tersebut
sebagai bukti.
Eun Sum
berlari. Bantu berlari di belakangnya. Lama-kelamaan langkah mereka beriringan.
Kembali ke
desa, keributan terjadi. Mereka berkumpul di tempat di mana Eun Sum ditanya
dulu. Dal Sae yang sepertinya tidak menyukai Eun Sum terus mengatakan kalau Eun
Sum berbohong. Ia mengusulkan agar Eun Sum diusir.
Dal Sae
berniat untuk pergi. Di luar ternyata pasukan Arthdal sudah sampai di desa.
Mereka menunggangi kuda, sesuatu yang bagi suku Wahan mustahil dilakukan. Suku
Wahan hanya terdiam melihat kedatangan mereka.
Dua orang
anak kecil mendekat ke arah prajurit Arthdal. Mereka ingin memegang si kuda
karena takjub. Tapi salah satunya dibunuh oleh pasukan Arthdal. Kegemparan pun
mulai terjadi.
Pasukan
Arthdal bersiap membidik dengan panah api. Kebakaran terjadi dan orang-orang
mulai berlari ke segala arah untuk menyelamatkan diri. Pasukan Arthdal tentu
tidak membiarkan hal itu karena mereka siap untuk memburu orang-orang di desa
tersebut. Para suku Wahan sebisa mungkin melawan.
Suku Wahan
berusah menyelamatkan anak-anak dengan membawanya ke tempat persembunyian.
Karena kalah jumlah dan peralatan, suku Wahan pun tak bisa lagi melawan.
Pasukan Arthdal juga membakar tempat persembunyian anak-anak.
Di markas pasukan Arthdal, Ta Gon membicarakan rencana mereka pada Iark. Juga terdapat
legenda jika Iark merupakan tempat kaburnya ayah Ri San dan ibu Asa Sin. Karena
legenda tersebut, salah satu prajurit berseloroh dengan berharap melihat
Kanmoreu di Iark.
Suku Wahan
yang tersisa, diikat agar tidak kabur. Prajurit Arthdal menyuruh tawanannya
berdiri dan berjalan menuju suatu tempat.
Eun Sum
datang dengan menunggangi kuda. Ia ingin menyelamatkan suku Wahan. Para suku
Wahan senang karena Eun Sum datang untuk mereka. Dal Sae yang tidak tertangkap
juga ikut membantu. Pertarungan tahap dua pun pecah.
Eun Sum
ingin membawa Tan Ya pergi. Mereka menghindari serangan pasukan Arthdal. Eun
Sum berhasil membawa Tan Ya naik ke atas kuda. Namun, Tan Ya tertangkap. Eun
Sum turun dan berusaha menyelamatkan Tan Ya.
“Pergi
saja,” kata Tan Ya.
“Aku tak
bisa.”
“Aku anak
Komet Biru. Aku harus bersama sukuku. Selamatkan dirimu. Lalu suatu hari,
kembalilah untuk kami.”
Eun Sum
masih berusaha menyelamatkan Tan Ya. Tapi, ia menyadari bahwa memang ia
sebaiknya pergi.
“Berikan
aku nama. Beri sesuatu agar bisa terus berjuang. Jadi, aku tak menyerah.”
Tan Ya
semakin ditarik dan Eun Sum dihujani anak panah. Ia tidak bisa mengejar Tan Ya.
“Mimpi!
Itulah namamu. Karena kau mimpiku, juga mimpi Wahan.” seru Tan Ya untuk
terakhir kalinya. “Jadi, kembalilah untukku, apa pun yang terjadi,” tambahnya
dalam hati.
Karena
terdesak, Eun Sum pun pergi dengan menunggangi kuda hitamnya. Pasukan Arthdal
mengejar. Mereka nyaris melukai Eun Sum. Tapi Eun Sum berhasil mengelak. Moo
Baek ikut menyerang Eun Sum. Tapi tiba-tiba Bantu semakin cepat berlari dan
meloloskan Eun Sum dari bahaya. Kuda yang ditunggangi musuh juga entah kenapa
berhenti berlari.
“Tak
mungkin. Kuda itu mungkin Kanmoreu,” batin Moo Baek.
Kembali ke
perkemahan pasukan Arthdal.
“Apakah
Kanmoreu begitu cepat?”
“Sejak kuda
pertama yang pernah hidup, Kanmoreu keturunan langsung dari silsilah panjang
kuda sulung. Ingatan berlarian di alam liar ada dalam otaknya. Maka kuda lain
tak bisa mendahuluinya. Kita bisa cambuk kuda kita, tapi tetap tak bisa
mengejarnya.”
“Itu cuma
legenda. Itu hanya cerita lama.” Ta Gon menambahkan.
Adegan
beralih lagi ke pengejaran Eun Sum.
“Jika kuda
itu Kanmoreu, maka ia Aramun Haesulla,” batin Moo Baek.
Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 3
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 13, 2019
Rating:
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 13, 2019
Rating:












































Tidak ada komentar: