banner image
banner image

Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 3



Seorang prajurit Arthdal bersiap memanah Eun Sum. Eun Sum yang baru pertama kali melihat busur dan panah justru penasaran. Sementara si orang Arthdal melaporkan keberadaan Eun Sum.

Eun Sum terserempet anak panah. Si pemanah berlari ke arah Eun Sum. Dan itu tanda bagi Eun Sum untuk kabur. Si prajurit terus mengarahkan anak panahnya pada Eun Sum. Beruntung Eun Sum berhasil menghindar.


Eun Sum terus berlari sambil sesekali memegangi lehernya yang terluka. Ia menabrak seseorang yang ternyata juga merupakan pasukan Arthdal. Namun, orang itu tidak membawa busur dan panah, melainkan sebuah pedang. Mereka berdua saling berhadapan.


Sekuat tenaga Eun Sum membela diri. Tapi lengannya terluka dan darah ungu mengalir dari lukanya. Si prajurit Arthdal pun menyadari bahwa lawannya adalah seorang Igutu. Eun Sum mengambil kesempatan untuk melepaskan diri. Prajurit itu mati oleh pedang temannya yang baru datang. Dan prajurit kedua pun mati setelah dilempar oleh Eun Sum.



Eun Sum mengambil pedang musuh. “Batu macam apa ini?”


Desa geger karena kematian suku Anja. Mereka mengira suku Anja diserang oleh suku Wabi, padahal sebenarnya tidak. Eun Sum datang tertatih-tatih menuju keramaian di desa.



“Bukan suku Wabi!” suara Eun Sum lantang. Semua melihat ke arah Eun Sum.



Pasukan Arthdal yang lain telah sampai di TKP. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi saat melihat dua prajurit Arthdal mati di sana. Di belakangnya, Bantu melihat semuanya.


Sementara di desa, Eun Sum melaporkan semuanya, tentang apa yang didengar dan dilihatnya. Tapi Dal Sae menuduhnya berbohong. Eun Sum mengelak. Ia tidak berbohong. Ia menunjukkan pedang yang digunakan Arthdal untuk membunuh. Ia juga mengatakan bahwa penyerangnya menggunakan bahasa yang sama seperti mereka gunakan.


Sekali lagi Dal Sae menolak percaya. Cho Seol bertanya mengenai ksatria Anja yang ditemui Eun Sum. Eun Sum pun berniat kembali ke hutan dan membawa ksatria tersebut sebagai bukti.


Eun Sum berlari. Bantu berlari di belakangnya. Lama-kelamaan langkah mereka beriringan.


Kembali ke desa, keributan terjadi. Mereka berkumpul di tempat di mana Eun Sum ditanya dulu. Dal Sae yang sepertinya tidak menyukai Eun Sum terus mengatakan kalau Eun Sum berbohong. Ia mengusulkan agar Eun Sum diusir.


Dal Sae berniat untuk pergi. Di luar ternyata pasukan Arthdal sudah sampai di desa. Mereka menunggangi kuda, sesuatu yang bagi suku Wahan mustahil dilakukan. Suku Wahan hanya terdiam melihat kedatangan mereka.


Dua orang anak kecil mendekat ke arah prajurit Arthdal. Mereka ingin memegang si kuda karena takjub. Tapi salah satunya dibunuh oleh pasukan Arthdal. Kegemparan pun mulai terjadi.


Pasukan Arthdal bersiap membidik dengan panah api. Kebakaran terjadi dan orang-orang mulai berlari ke segala arah untuk menyelamatkan diri. Pasukan Arthdal tentu tidak membiarkan hal itu karena mereka siap untuk memburu orang-orang di desa tersebut. Para suku Wahan sebisa mungkin melawan.




Suku Wahan berusah menyelamatkan anak-anak dengan membawanya ke tempat persembunyian. Karena kalah jumlah dan peralatan, suku Wahan pun tak bisa lagi melawan. Pasukan Arthdal juga membakar tempat persembunyian anak-anak.



Di markas pasukan Arthdal, Ta Gon membicarakan rencana mereka pada Iark. Juga terdapat legenda jika Iark merupakan tempat kaburnya ayah Ri San dan ibu Asa Sin. Karena legenda tersebut, salah satu prajurit berseloroh dengan berharap melihat Kanmoreu di Iark.


Suku Wahan yang tersisa, diikat agar tidak kabur. Prajurit Arthdal menyuruh tawanannya berdiri dan berjalan menuju suatu tempat.



Eun Sum datang dengan menunggangi kuda. Ia ingin menyelamatkan suku Wahan. Para suku Wahan senang karena Eun Sum datang untuk mereka. Dal Sae yang tidak tertangkap juga ikut membantu. Pertarungan tahap dua pun pecah.




Eun Sum ingin membawa Tan Ya pergi. Mereka menghindari serangan pasukan Arthdal. Eun Sum berhasil membawa Tan Ya naik ke atas kuda. Namun, Tan Ya tertangkap. Eun Sum turun dan berusaha menyelamatkan Tan Ya.




“Pergi saja,” kata Tan Ya.

“Aku tak bisa.”

“Aku anak Komet Biru. Aku harus bersama sukuku. Selamatkan dirimu. Lalu suatu hari, kembalilah untuk kami.”



Eun Sum masih berusaha menyelamatkan Tan Ya. Tapi, ia menyadari bahwa memang ia sebaiknya pergi.

“Berikan aku nama. Beri sesuatu agar bisa terus berjuang. Jadi, aku tak menyerah.”



Tan Ya semakin ditarik dan Eun Sum dihujani anak panah. Ia tidak bisa mengejar Tan Ya.

“Mimpi! Itulah namamu. Karena kau mimpiku, juga mimpi Wahan.” seru Tan Ya untuk terakhir kalinya. “Jadi, kembalilah untukku, apa pun yang terjadi,” tambahnya dalam hati.



Karena terdesak, Eun Sum pun pergi dengan menunggangi kuda hitamnya. Pasukan Arthdal mengejar. Mereka nyaris melukai Eun Sum. Tapi Eun Sum berhasil mengelak. Moo Baek ikut menyerang Eun Sum. Tapi tiba-tiba Bantu semakin cepat berlari dan meloloskan Eun Sum dari bahaya. Kuda yang ditunggangi musuh juga entah kenapa berhenti berlari.

“Tak mungkin. Kuda itu mungkin Kanmoreu,” batin Moo Baek.




Kembali ke perkemahan pasukan Arthdal.

“Apakah Kanmoreu begitu cepat?”


“Sejak kuda pertama yang pernah hidup, Kanmoreu keturunan langsung dari silsilah panjang kuda sulung. Ingatan berlarian di alam liar ada dalam otaknya. Maka kuda lain tak bisa mendahuluinya. Kita bisa cambuk kuda kita, tapi tetap tak bisa mengejarnya.”

“Itu cuma legenda. Itu hanya cerita lama.” Ta Gon menambahkan.


Adegan beralih lagi ke pengejaran Eun Sum.

“Jika kuda itu Kanmoreu, maka ia Aramun Haesulla,” batin Moo Baek.




Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 3 Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 2 Part 3 Reviewed by Liku Kata on Juni 13, 2019 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.