Malam pun
datang. Bocal Nweantal bersiul. Ia mencari Asa Hon tapi justru menemukan Ragaz
tergantung di pohon, sementara Asa Hon duduk di bawahnya. Ia bertanya tentang
upacara perpisahan bulan. Asa Hon mengangguk pelan. Ia lalu memegang kaki Ragaz
dan mengucapkan perpisahan.
“Aramun
Haesulla membawa Ragaz,” kata Asa Hon.
“Dewa pembentuk Serikat Arthdal? Aramun itu? Dia sudah mati.”
“Aku bermimpi.”
“Kau bukan Nweantal atau Igutu, tapi bisa bermimpi? Bagaimana?”
“Palu angin dan bunga kamperfuli. Itu Aramun Haesulla. Aramun mengancam mengambil Ragaz jika aku tak menyerahkan anak-anakku. Aku tak bisa serahkan mereka. Karena itulah ini terjadi.”
“Itu hanya mimpi.”
Asa Hon ingat hari di mana anaknya lahir juga merupakan Komet Biru muncul di langit. Bagi bangsa Arthdal, diyakini bahwa pembawa bencana dilahirkan di hari itu. Ia merasa sudah dikutuk dewa Arth. Si bocah laki-laki mengatakan untuk tidak percaya pada dewa. Tapi Asa Hon sudah menghianati bangsanya dan membantu Nweantal. Ia juga suda jatuh cinta dan melahirkan bayi Igutu.
Asa Hon
teringat lanjutan mimpinya agar ia lari sejauh mungkin. Maka, ia memutuskan
untuk pergi ke Iark. Ia percaya dewa Arth tidak bisa menjangkaunya di sana.
Kutukannya tak bisa sampai ke sana.
“Kau akan menuruni Tebing Hitam Besar? Hanya burung yang bisa melakukannya,” kata si anak laki-laki itu.
“Kudengar ada gua yang menuju ke bawah tebing.”
“Namun, hanya ada satu dari ribuan gua.”
“Aku harus mencobanya.”
Asa Hon pun pergi. Si anak laki-laki terlihat bimbang lalu menatap Ragaz.
Asa Hon
berjalan dalam kegelapan malam. Ia harus memastikan bahwa dirinya dan bayinya
selamat. Hari berganti demi hari. Asa Hon tetap gigih melakukan perjalanannya
sembari menggendong sang bayi. Sesekali ia berteduh karena hujan turun. Hingga
sampailah ia di tepi sebuah sungai. Ia nekat menyeberangi sungai dengan
berjalan kaki. Ia mengangkat tinggi bayinya agar tidak terkena air. Dan
akhirnya, ia berhasil sampai ke seberang.
Asa Hon terus berjalan. Ia sampai di tepi tebing. “Eun Sum. Di bawah sana adalah Iark. Dewa Arth tak bisa menerapkan otoritasnya di sana. Agar kita berdua hidup, kita harus ke sana.”
Asa Hon
melihat sekeliling. Ia harus menemukan gua yang akan membawanya ke dasar
tebing. Ia memasuki sebuah gua dengan membawa obor di tangannya. Ia juga beristirahat
dan makan kelelawar yang ditemuinya di dalam gua. Ketika Eun Sum menangis, Asa
Hon menggendong dan menyusuinya.
Sepuluh
tahun berlalu. Ta Gon dielu-elukan oleh kaumnya karena membawa kemenangan besar
bagi mereka. Ta Gon yang memakai topeng tengkorak mulai berpidato, “Di sini ada
suku Saenyeok, suku Gunung Putih, dan suku Hae. Kurasa suku Hae tak di sini.
Aku juga tak berharap ada mereka. Begitulah, kita suku yang berbeda dan memuja
dewa yang berbeda. Namun, seluruh pasukan Daekan adalah bersaudara. Sampai
akhir yang panjang!”
Tengkorak
yang dipakai Ta Gon ternyata merupakan Neanthal terakhir yang ia bunuh. Pesta
pun dimulai. Mereka bersulang untuk prajurit yang telah meninggal.
“Kematian
jaya itu tak ada. Kematian hanya memadamkan cahaya,” kata Moo Baek dalam hati.
Ta Gon
menghancurkan tengkorak yang sebelumnya digunakan sebagai gelas minumannya. Ia
mengumumkan bahwa perburuan besar telah berakhir.
Mereka
menyerukan nama Ta Gon. Tiba-tiba Taealha masuk ke sana. Ia melepas jubahnya
dan menyerahkannya pada pelayannya. Ta Gon ingin berjalan ke arah Taealha tapi
jatuh karena terlalu mabuk.
Taealha
memasukkan kepala Ta Gon ke dalam bak air agar ia sadar. Taealha mencium
beberapa guci yang ada di kamar dan mendapati bahwa semuanya berisi alkohol. Ta
Gon terjatuh di ranjang.
“Sadarlah.
Anak itu sudah berumur sepuluh tahun. Kubesarkan ia walau belum menikah,” kata
Taealha.
“Sepulun
tahun. Sudah sepuluh tahun.”
“Ya, sepuluh tahun aku mengikutimu ke berbagai peperangan. Ini. Ini geulbal (surat) anak itu.”
“Kau ajari ia menulis?”
Ta Gon
membaca surat tersebut. Anak itu menganggap Ta Gon sebagai ayahnya.
Taealha
bertanya tentang rencana Ta Gon ke depan. Ta Gon menjawab, “Keropeng birunya
akan luruh saat ia besar. Nweantal tak akan begitu, tapi ia Igutu.”
Taealha duduk di samping Ta Gon dan kembali bertanya tentang rencananya. Ia setengah berteriak karena Ta Gon tidak langsung menjawabnya.
“Rencanaku ialah menikahimu,” kata Ta Gon.
Taealha hanya terdiam tapi sebuah senyum ia sunggingkan.
“Itu membuatmu senang walau kau kesal?” Ta Gon bertanya.
“Aku sedih. Tak ada pernikahan, kecuali kau kembali ke Arthdal.”
“Apa maksudmu?”
“Suku Ago memberontak. Kau harus mengatasinya. Itu perintah Sanung. Titah ayahmu.”
Mereka berdua berbincang sejenak mengenai suku Ago yang suka memberontak dan keputusan Ta Gon yang mau tak mau mematuhi ayahnya.
Taealha mengelus pipi Ta Gon dan mengatakan bahwa ayah Ta Gon hanya iri pada Ta Gon. Mereka saling bertatapan, berpegangan, lalu Ta Gon bertanya, ”Teruskan. Apa rencana ayahku sekarang?”
“Soal itu…
Iark.”
Setting berpindah ke Arthdal. Para petinggi berkumpul. Mereka membicarakan tentang tugas baru, yakni Iark. Dan yang akan memimpin tugas tersebuk tidak lain adalah Ta Gon.
Eun Sum
membawa obor dan sampai di tepi gua. Ia memanjat dinding tebing, namun
terjatuh. Untungnya ia berhasil memegang sebuah batu. Ia lalu kembali,
mematikan obor dan berlari menuju sebuah gubuk kecil. Ibunya, Asa Hon sedang
menanti di sana.
“Aku menemukannya,” kata Eun Sum.
“Menemukan apa?”
“Ingat, Ibu bilang ada gurun garam di bawah? Ibu sangat ingin pergi ke bawah sana. Aku sudah ke sana. Kutemukan lubang menuju ke sana. Kubawa ini dari sana.”
Asa Hon mengambil apa yang ada di tangan Eun Sum lalu menjilatnya. Asa Hon menangis karena terharu telah berhasil menemukan gua menuju Iark.
“Ayo pergi. Ayo ke bawah sana,” ajak Eun Sum.
Asa Hon dan Eun Sum berjalan tertatih ke dalam gua. Dengan penerangan obor, mereka melalui jalan yang tidak rata. Namun, mereka akhirnya bisa sampai ke tempat yang sudah lama ingin mereka kunjungi, Iark. Asa Hon menggandeng tangan Eun Sum dan mulai berjalan.
“Akan ada dunia baru dan orang baru.”
“Omong-omong, Bu. Apa aku bukan manusia? Kenapa darhku berbeda dengan darah Ibu?”
“Manusia atau bukan, tak ditentukan oleh warna darahmu. Jika hidup bersama manusia, maka kau menjadi manusia,” jawab Asa Hon. Ia kemudian menggendong Eun Sum karena tanahnya terlalu panas. Ia berjalan sekuat tenaga dengan Eun Sum di gendongannya. Tapi, ia tak kuat lagi. Ia jatuh.
Eun Sum menyuapi ibnya dengan air. Ia lalu melepas sepatu sang Ibu dan melihat kakinya sudah melepuh. Ia pergi mencari tanaman obat dan menumbuknya. Tiba-tiba ia melihat sekumpulan serigala mendekat. Para serigala itu mengincar ibunya. Ia bergerak cepat menghadang. Ia berusaha mengusir mereka.
Serigala
paling besar muncul. Serigala itu berjalan pelan mendekati Eun Sum. Saat
serigala itu hendak menyerang, sebuah anak panah melesat mengenainya disusul
dengan anak panah lain yang berhasil mengusir kawanan serigala tersebut.
Orang-orang pun bermunculan. Mereka mengerubungi Asa Hon.
Eun Sum
mengoleskan obat ke kaki Asa Hon. Asa Hon fokus pada apa yang ada di depan
matanya yang ternyata mirip dengan yang ada dalam mimpinya.
“Kau… Kau memanfaatkanku, Aramun Haesulla. Kau memanfaatkanku untuk datang ke Iark,” kata Asa Hon. Ia lalu menangis.
Asa Hon melepas kalungnya dan memberikannya pada Eun Sum. “Setelah keropengmu lepas, kembali ke tempat ini, Aramun.”
“Ibu, apa maksud Ibu?”
Asa Hon
masih bingung apakah ia membawa Aramun ke Iark atau membawa Eun Sum pada
Aramun. Sekali lagi Asa Hon pingsan. Atau mungkin meninggal.
Beberapa
tahun berlalu. Eun Sum dewasa mengigau tentang ibunya dan dikerumuni
orang-orang suku Iark. Eun Sum menangis dalam tidurnya sambil terus
menggumamkan kata Ibu. Saat ia tiba-tiba bangun, orang-orang di sekitarnya
kaget.
“Apa itu
benar? Kau sungguh bermimpi? Kau baru saja terbangun dari mimpi?”
Sinopsis Arthdal Chronicles Episode 1 Part 2
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 11, 2019
Rating:
Reviewed by Liku Kata
on
Juni 11, 2019
Rating:










Tidak ada komentar: